Sakitnya Ditolak Sebelum Direview: Apa Itu Desk Reject?
Bagi seorang akademisi, dosen, atau peneliti di Indonesia, mengirimkan artikel ilmiah ke jurnal bereputasi adalah proses yang penuh dengan harapan. Namun, bayangkan situasi ini: Anda baru saja mengirimkan manuskrip kemarin, dan pagi ini Anda menerima email dengan subjek ‘Decision on your Manuscript’. Harapan Anda melambung, hanya untuk runtuh seketika saat membaca kalimat pertama: ‘We regret to inform you that…’. Ini adalah desk reject—penolakan langsung oleh editor bahkan sebelum artikel Anda sempat dikirimkan ke reviewer (mitra bestari).
Desk reject bisa terasa sangat menyakitkan karena manuskrip Anda dinilai tidak layak untuk dievaluasi lebih lanjut. Namun, jangan berkecil hati. Desk reject adalah hal yang sangat umum terjadi, bahkan pada peneliti senior sekalipun. Menurut berbagai data penerbit besar seperti Elsevier dan Springer, tingkat desk reject di jurnal-jurnal Q1 (Quartile 1) bisa mencapai 50% hingga 80%. Mengapa hal ini terjadi? Bagaimana Anda bisa menghindarinya? Mari kita bahas secara mendalam berbagai alasan utama di balik keputusan pahit ini dan bagaimana Anda dapat menyiasatinyanya.
Kesalahan Umum Penyebab Desk Reject
Sebelum menyalahkan kualitas penelitian Anda, penting untuk memahami bahwa sering kali desk reject disebabkan oleh kesalahan administratif atau teknis yang sebenarnya bisa dihindari. Berikut adalah beberapa kesalahan umum yang paling sering ditemui:
1. Ketidaksesuaian Ruang Lingkup (Scope Mismatch)
Ini adalah alasan paling klasik. Setiap jurnal memiliki dokumen ‘Aims and Scope’ yang sangat spesifik. Jika artikel Anda membahas tentang metode pembelajaran matematika di sekolah dasar, tetapi Anda mengirimkannya ke jurnal yang fokus pada kebijakan pendidikan makro secara global, editor akan langsung menolaknya dalam hitungan jam. Editor tidak ingin membuang waktu reviewer untuk artikel yang jelas-jelas tidak cocok dengan pembaca jurnal mereka.
2. Format Penulisan Tidak Mengikuti Petunjuk Penulis (Author Guidelines)
Setiap jurnal memiliki aturan baku mengenai gaya sitasi (APA, IEEE, Harvard), batas kata, struktur abstrak, hingga format tabel dan gambar. Mengabaikan aturan ini mengirimkan sinyal buruk kepada editor bahwa Anda kurang teliti atau tidak serius mengirimkan karya Anda ke jurnal mereka.
3. Kualitas Bahasa dan Tata Bahasa yang Buruk
Meskipun ide penelitian Anda sangat brilian, jika ditulis dengan bahasa Inggris yang membingungkan, editor tidak akan melanjutkannya ke tahap review. Reviewer adalah sukarelawan yang sibuk; editor tidak ingin menyiksa mereka dengan manuskrip yang sulit dipahami secara linguistik.
Strategi Memilih Jurnal: Menyeimbangkan Kualitas (Quartile) dan Biaya (APC)
Bagi peneliti di Indonesia, memilih tempat publikasi bukan hanya soal kecocokan topik, tetapi juga tentang anggaran. Biaya publikasi atau yang dikenal dengan Article Processing Charge (APC) bisa sangat bervariasi. Jurnal dengan reputasi tinggi (Quartile 1 atau Q2) sering kali mematok APC yang sangat mahal, mencapai ribuan dolar AS.
Namun, menerbitkan artikel di jurnal ber-quartile tinggi memberikan nilai kredit (KUM) yang sangat besar untuk kenaikan jabatan fungsional dosen di Indonesia. Oleh karena itu, penting untuk merencanakan keuangan penelitian Anda. Jika anggaran Anda terbatas, Anda harus mencari jurnal yang menawarkan APC rendah atau bahkan gratis (tanpa APC), namun tetap terindeks di Scopus atau Web of Science (WoS).
Jangan tergiur dengan jurnal yang menjanjikan proses review instan dengan APC murah. Ini adalah ciri utama dari jurnal predator atau bahkan jurnal kloning (cloned journals). Jurnal kloning meniru identitas jurnal bereputasi yang asli (termasuk ISSN dan tampilan situs web) untuk menipu penulis agar membayar APC. Selalu lakukan verifikasi ulang melalui Scopus Source List atau Beall’s List sebelum mengirimkan manuskrip Anda.
Perbandingan Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial Berdasarkan APC dan Quartile
Untuk membantu Anda memilih jurnal yang tepat tanpa menguras kantong namun tetap memiliki reputasi yang baik, berikut adalah perbandingan beberapa jurnal di bidang Pendidikan dan Ilmu Sosial:
| Nama Jurnal | Penerbit | Quartile | APC (Estimasi) | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
| International Journal of Evaluation and Research in Education (IJERE) | IAES | Q2 | Sangat Terjangkau (Sekitar USD 250-300) | Sangat populer di kalangan peneliti Indonesia, proses review ketat namun adil. |
| Journal of Social Studies Education Research | Association for Social Studies Educators | Q1 / Q2 | Sedang (Sekitar USD 600-800) | Fokus pada pendidikan ilmu sosial dengan reputasi global yang kuat. |
| Tarih Kultur Sanat Arastirmalari Dergisi | Karabuk University | Q3 | Rendah (Sekitar USD 150-200) | Menerima artikel multidisiplin terkait sejarah dan budaya. |
| Indonesian Journal of Applied Linguistics (IJAL) | UPI | Q2 | Gratis / Sangat Rendah | Jurnal nasional bereputasi internasional, persaingan sangat ketat. |
| Gadjah Mada International Journal of Business | UGM | Q3 | Gratis (No APC) | Fokus pada bisnis dan manajemen, tanpa biaya publikasi. |
| Computers & Education | Elsevier | Q1 | Tinggi (Sekitar USD 2,500+) | Jurnal top dunia dengan dampak sangat tinggi, menyediakan opsi Open Access. |
| Asia Pacific Journal of Education | Routledge | Q2 | Tinggi jika memilih Open Access (USD 3,000) | Opsi Green Open Access gratis tersedia dengan masa embargo. |
| Journal of Turkish Science Education | Ekip Publishing | Q3 | Rendah (Sekitar USD 200) | Fokus pada pendidikan sains dengan biaya terjangkau. |
| Kasetsart Journal of Social Sciences | Kasetsart University | Q2 | Bebas Biaya / Rendah | Jurnal dari Thailand yang sangat dihormati di Asia Tenggara. |
| Pegem Journal of Education and Instruction | Pegem Akademi | Q4 | Sedang (Sekitar USD 400) | Cocok untuk peneliti pemula yang ingin masuk ke indeks Scopus. |
Di Balik Layar: Mengapa Editor Begitu Ketat? (Perspektif Pengelola Jurnal)
Untuk menghindari desk reject, ada baiknya Anda memahami sudut pandang dari pengelola jurnal. Mengapa mereka sangat selektif? Jawabannya sederhana: mereka ingin mempertahankan atau meningkatkan status indeksasi mereka di database bereputasi seperti Scopus atau Web of Science (WoS).
Bagi sebuah jurnal, untuk dapat terindeks dan bertahan di Scopus, editor dan manager jurnal harus mengikuti langkah-langkah strategis berikut:
1. Meningkatkan Internasionalisasi Jurnal
Scopus menuntut agar dewan editor (editorial board) dan penulis (authors) berasal dari berbagai negara yang bervariasi. Jika sebuah jurnal didominasi oleh penulis dari satu negara saja, Scopus akan menganggap jurnal tersebut bersifat lokal dan tidak layak diindeks secara global. Oleh karena itu, editor akan langsung melakukan desk reject pada artikel lokal jika kuota kontribusi internasional mereka belum terpenuhi.
2. Meningkatkan Jumlah Sitasi dan Impact Factor
Keberhasilan sebuah jurnal diukur dari seberapa sering artikel mereka dikutip oleh peneliti lain. Editor hanya akan menerima artikel yang memiliki potensi sitasi tinggi. Artikel yang membahas topik yang sudah usang, tidak memiliki kebaruan (novelty) yang jelas, atau tidak menyitasi artikel-artikel terbaru dari jurnal bereputasi lainnya akan langsung ditolak.
3. Menjaga Standar Etika Publikasi yang Ketat
Pengelola jurnal harus memastikan tidak ada plagiarisme, manipulasi data, atau kepengarangan palsu. Oleh karena itu, penyaringan awal menggunakan perangkat lunak seperti Turnitin atau iThenticate dilakukan dengan sangat ketat pada tahap awal (screening).
Panduan Langkah demi Langkah Menghindari Desk Reject
Sebagai penulis, Anda dapat meminimalkan risiko penolakan awal ini dengan mengikuti panduan praktis berikut sebelum menekan tombol ‘Submit’:
- Lakukan Skrining Mandiri Terhadap Aims & Scope: Baca dengan teliti halaman deskripsi jurnal. Apakah artikel Anda benar-benar menjawab pertanyaan yang relevan dengan fokus mereka? Jika ragu, kirimkan email pre-submission inquiry kepada editor yang berisi abstrak Anda untuk menanyakan ketertarikan mereka.
- Gunakan Jasa Proofreading Profesional: Jangan biarkan kendala bahasa menghancurkan kerja keras penelitian Anda selama berbulan-bulan. Investasikan waktu atau biaya untuk memeriksa tata bahasa, alur logika, dan kejelasan tulisan Anda.
- Tulis Pendahuluan (Introduction) yang Menjual: Paragraf pertama pendahuluan Anda harus mampu menjawab tiga pertanyaan krusial: Apa masalahnya? Mengapa masalah ini penting? Dan apa solusi baru yang Anda tawarkan (novelty)? Jika editor tidak menemukan jawaban ini di dua halaman pertama, artikel Anda kemungkinan besar akan ditolak.
- Periksa Ulang Referensi Anda: Pastikan Anda menyitasi artikel dari jurnal target Anda atau jurnal sejenis dalam 3-5 tahun terakhir. Ini membuktikan bahwa Anda memahami percakapan akademis yang sedang berlangsung di bidang tersebut.
- Patuhi Seluruh Format Teknis: Sesuaikan template manuskrip tanpa kecuali. Periksa format tabel, penomoran gambar, gaya sitasi, hingga batasan jumlah kata untuk abstrak dan teks utama.
Kesimpulan dan Langkah Selanjutnya
Mengalami desk reject bukanlah akhir dari perjalanan akademis Anda. Hal ini adalah bagian normal dari proses publikasi ilmiah yang dinamis. Jadikan penolakan tersebut sebagai masukan berharga untuk memperbaiki kualitas manuskrip Anda. Evaluasi kembali apakah target jurnal Anda sudah realistis, apakah formatnya sudah sesuai, dan apakah pesan utama penelitian Anda sudah tersampaikan dengan jelas.
Ingatlah untuk selalu waspada terhadap jurnal predator dan rencanakan pemilihan jurnal Anda dengan bijak berdasarkan anggaran APC dan target quartile yang realistis. Dengan persiapan yang matang dan pemahaman yang mendalam tentang perspektif editor, artikel Anda akan memiliki peluang jauh lebih besar untuk lolos ke tahap peer review dan akhirnya terbit di jurnal impian Anda. Tetap semangat menulis, lakukan revisi sekarang juga, dan kirimkan kembali karya terbaik Anda!
